Dulu sekitar delapan puluh tahun yang lalu…..
Hari Minggu, 28 Oktober 1928,
Waktu itu, seorang pemuda beranjak dari tempatnya. Ia buru-buru keluar dari rumah hingga tak sempat sarapan. Ia bergerak bergabung bersama teman-temannya. Mereka beramai-ramai menuju gedung Oost-Java Bioscoop. Pemuda itu terkagum melihat berbagai pemuda dari beberapa suku berkumpul menjadi satu, sungguh pemandangan yang mungkin akan jarang terlihat lagi. Setelah mendengarkan panjang lebar isi rapat kongres pada hari itu, ia melihat seseorang yang sudah ia sangat kenal. WR Supratman, memainkan biolanya yang sungguh syahdu, lagu Indonesia Raya dimainkan tanpa dinyanyikan. Mata pemuda itu berkaca-kaca tak sanggup berkata-kata, hatinya trenyuh. Instrumen lagu Indonesia Raya selesai dimainkan. Serentak peserta kongres menyambutnya dengan meriah. Kongres ditutup dengan secara bersama-sama pemuda-pemuda mengucapkan sumpah setia:
“Kami Poetra dan Poetri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia”
“Kami Poetra dan Poetri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Yang Satoe, Bangsa Indonesia”
“Kami Poetra dan Poetri Indonesia, Mendjoenjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia”
….pemuda itupun tak sanggup lagi membendung air matanya. Ia pun menangis haru.
***
Hari Selasa, 28 Oktober 2008,
Seorang pemuda datang ke makam kakek buyutnyanya tercinta yang jauh dari pemukiman. Ia mendatangi makam itu untuk berziarah sambil membawa bunga. Lalu, Ia menaburkannya ke makam kakek buyutnya tercinta. Sejenak ia terdiam. Ia mengenang perjuangan kakek buyutnya pada masa pra kemerdekaan melalui cerita yang ia pernah dengar pada sepuluh tahun yang lalu. Padahal kakek buyutnya ketika bercerita waktu itu sudah berumur delapan puluh delapan tahun namun begitu semangat untuk bercerita. Ia sadari begitu cintanya sang kakek terhadap bangsa ini. Ia merenungkan bagaimana perasaan kakek jika melihat kondisi bangsa ini sekarang yang mungkin terancam menjadi tidak satu lagi dan terpecah belah. Namun, ia yakin selama semangat-semangat persatuan yang pernah dimiliki oleh kakeknya itu masih ada di dalam diri pemuda-pemuda Indonesia saat ini kita masih tetap satu sebagai Bangsa Indonesia.
Sebagai renungan untuk mempengeringati 80 Tahun Sumpah Pemuda.
Kita ini tinggal di Tanah yang Satu.
Kita ini satu dalam Berbahasa Indonesia.
Kita ini adalah Bangsa yang Satu.
- Azhari Mayondhika -
2008@Pondok Zire, Depok











